Lewati ke konten utama
Magister Pendidikan Dasar Universitas Bung Hatta Gelar Penguatan HOTS melalui Transformasi Problem-Based Learning Fakultas
Senin, 26 Oktober 2026
Ubay

Bagikan:

Magister Pendidikan Dasar Universitas Bung Hatta Gelar Penguatan HOTS melalui Transformasi Problem-Based Learning

Program Studi Magister Pendidikan Dasar, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Bung Hatta menyelenggarakan Kuliah Umum bertajuk “Mengakselerasi Higher-Order Thinking Skills (HOTS) Siswa SD lewat Transformasi Problem-Based Learning” secara daring melalui Zoom Meeting pada 24 Oktober 2026.

Kuliah umum tersebut menghadirkan Dr. Nurhanurawati, M.Pd., dosen Pendidikan Matematika FKIP Universitas Lampung, sebagai narasumber. Kegiatan dipandu oleh Dewi Citra Rusyadi, S.Pd., mahasiswa Program Studi Magister Pendidikan Dasar Universitas Bung Hatta, serta diikuti oleh mahasiswa dan peserta dari kalangan pendidikan.

Dekan FKIP Universitas Bung Hatta, Dr. Ali Mardius, M.Pd., mengapresiasi penyelenggaraan kuliah umum tersebut sebagai bagian dari upaya meningkatkan kualitas akademik dan kompetensi lulusan.

"Kegiatan yang menghadirkan pakar dari berbagai perguruan tinggi perlu dilaksanakan secara berkelanjutan agar mahasiswa memperoleh wawasan yang lebih luas dan mampu menyesuaikan kompetensinya dengan perkembangan dunia pendidikan," ungkapnya.

Ketua Program Studi Magister Pendidikan Dasar, Dr. Syukma Netty, M.Si., menekankan tantangan pendidikan dasar saat ini tidak hanya berkaitan dengan kemampuan siswa mengingat informasi dan memahami konsep, tetapi juga bagaimana mereka mampu berpikir kritis, menganalisis persoalan, mengevaluasi alternatif, serta merumuskan solusi secara logis dan bertanggung jawab.

"Penerapan model Problem-Based Learning (PBL) tidak cukup hanya mengikuti tahapan pembelajaran, tetapi harus mampu mendorong siswa melakukan penyelidikan, mengembangkan penalaran, dan menyampaikan argumentasi berdasarkan pemahaman yang mereka bangun," imbuhnya.

Dr. Syukma Netty menambahkan kegiatan kuliah umum merupakan salah satu bentuk aktivitas akademik program studi untuk memperluas wawasan dan memperkaya pengalaman belajar mahasiswa. Interaksi dengan akademisi dari luar Universitas Bung Hatta diharapkan dapat memperkaya perspektif mahasiswa sekaligus mendorong penerapan gagasan inovatif dalam praktik pendidikan.

"Kegiatan ini bertujuan memperkuat pemahaman mahasiswa dan pendidik mengenai strategi pembelajaran yang mampu mengembangkan kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa sekolah dasar," sebutnya.

Dalam pemaparannya, Dr. Nurhanurawati menjelaskan Higher-Order Thinking Skills (HOTS) tidak sekadar berkaitan dengan pemberian soal yang sulit. HOTS mencakup kemampuan menggunakan pengetahuan untuk menganalisis situasi, mengevaluasi berbagai alternatif, mengembangkan solusi, serta menyampaikan argumentasi yang dapat dipertanggungjawabkan.

"Pada jenjang sekolah dasar, pengembangan HOTS perlu disesuaikan dengan tahap perkembangan kognitif siswa. Pembelajaran tidak harus menggunakan materi yang lebih rumit, tetapi perlu menghadirkan pengalaman belajar yang membantu siswa memahami konsep secara mendalam dan menerapkannya untuk menyelesaikan persoalan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari," jelasnya.

Dr. Nurhanurawati juga menyoroti pentingnya transformasi pembelajaran dari pendekatan yang berpusat pada guru menuju pembelajaran yang memberikan ruang lebih besar bagi keaktifan siswa. Melalui PBL, masalah kontekstual menjadi titik awal pembelajaran sehingga siswa terdorong untuk bertanya, menyelidiki, membandingkan strategi penyelesaian, bekerja sama, dan mempertanggungjawabkan hasil pemikirannya.

"Terdapat lima prinsip penting transformasi PBL yang berorientasi pada HOTS, yaitu penggunaan masalah yang mendorong penyelidikan, penguatan penalaran dibandingkan sekadar pencarian satu jawaban, perubahan peran guru menjadi fasilitator, pengembangan kolaborasi intelektual antarsiswa, serta penerapan asesmen yang memperhatikan proses berpikir dan kualitas argumentasi," urainya.

Untuk memperjelas penerapannya, narasumber memberikan contoh pembelajaran matematika kelas V sekolah dasar melalui kegiatan merancang taman belajar. Dalam simulasi tersebut, siswa diminta merancang taman berbentuk persegi panjang dengan luas minimal 40 meter persegi dan panjang pagar maksimal 26 meter. Permasalahan ini mendorong siswa menghubungkan konsep luas dan keliling, mempertimbangkan berbagai alternatif desain, serta memberikan alasan atas solusi yang dipilih.

Kuliah Umum ini juga mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya SDG 4(Pendidikan Berkualitas) dan SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan) melalui penguatan kompetensi pendidik dan pengembangan pembelajaran melalui pertukaran pengetahuan dan kolaborasi akademik.