Lewati ke konten utama
Universitas Bung Hatta, BRIN, dan Dunia Usaha Inisiasi Riset Wisata Bahari Berkelanjutan di Mentawai Fakultas
Rabu, 14 Oktober 2026
Ubay

Bagikan:

Universitas Bung Hatta, BRIN, dan Dunia Usaha Inisiasi Riset Wisata Bahari Berkelanjutan di Mentawai

Ombak Macaronis di Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat, dikenal sebagai salah satu destinasi selancar (surfing) yang memiliki daya tarik internasional. Potensi wisata bahari ini tidak hanya menjadi aset pariwisata Indonesia, tetapi juga membuka peluang penguatan ekonomi masyarakat lokal. Untuk memastikan pengembangannya berjalan secara bertanggung jawab, Universitas Bung Hatta menginisiasi kolaborasi riset bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), IPB University, dan dunia usaha guna mengkaji daya dukung lingkungan serta daya tampung kawasan wisata selancar di Mentawai.

Kolaborasi riset ini melibatkan dosen Program Studi S2 Pengelolaan Sumberdaya Perairan, Pesisir, dan Kelautan (SP2K), Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Bung Hatta, Dr. Harfiandri Damanhuri, S.Pi., M.Sc.; BRIN yang diwakili oleh Prof. Taslim Arifin, Dr. (Cand.) Yulius, dan Dr. Aprizon Putra; IPB University yang diwakili oleh mahasiswa Upi Khotijah; serta PT Internusa Bahagia yang diwakili oleh Sandy dan Dedi Sababalat.

Inisiatif ini menjadi langkah strategis untuk mengintegrasikan keilmuan akademik, kapasitas riset, dan pengalaman dunia usaha dalam mendukung pengelolaan wisata bahari berkelanjutan. Kajian tersebut diharapkan menghasilkan data ilmiah sebagai dasar pengambilan keputusan, khususnya terkait kapasitas kunjungan peselancar, kondisi ekosistem pesisir dan laut, serta aspek keselamatan dan kenyamanan wisatawan di Pulau Siniai, kawasan Kepulauan Pagai Utara, Kabupaten Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat.

Di balik popularitas ombak Macaronis, terdapat kisah perjalanan para peselancar asing yang turut memperkenalkan kawasan tersebut ke dunia internasional. Berdasarkan kisah yang berkembang di kalangan peselancar, penamaan ombak Macaronis berawal dari kedatangan tiga peselancar, yakni Chris Goodnow, Scott Wakefield, dan Tony Fitzpatrick, sekitar tahun 1980. Mereka menjelajahi kawasan Teluk Pasongan atau Pasongan Bay, yang dikenal memiliki gulungan ombak besar dan menantang.

Ketiganya kemudian kembali ke kawasan tersebut sekitar 1989–1990 setelah sebelumnya menyimpan lokasi itu sebagai salah satu tempat berselancar yang belum banyak diketahui orang. Pada masa itu, akses menuju pesisir barat Pagai Utara masih sulit, terutama melalui jalur laut. Jalur darat pun masih berupa jalan setapak yang biasa digunakan masyarakat setempat untuk menuju kawasan perladangan. Untuk menikmati ombak, mereka berkemah di pantai Pulau Siniai.

Selama berkemah dan berselancar, ketiga peselancar tersebut membawa bekal makanan berupa pasta makaroni. Kebiasaan mengonsumsi makaroni di lokasi itu kemudian dikaitkan dengan munculnya nama ombak Macaronis, yang juga dikenal dengan sebutan Macas. Kisah tersebut menjadi bagian menarik dari perjalanan destinasi selancar Mentawai hingga dikenal luas oleh komunitas peselancar internasional.

Meskipun memiliki potensi besar, pengembangan wisata selancar di pulau-pulau kecil perlu memperhatikan daya dukung dan daya tampung kawasan. Peningkatan jumlah wisatawan tanpa pengelolaan yang tepat berpotensi menimbulkan tekanan terhadap ekosistem pesisir dan laut, sekaligus memengaruhi kenyamanan, keselamatan, serta interaksi sosial antara wisatawan dan masyarakat setempat.

Melalui riset kolaboratif ini, para peneliti diharapkan dapat menyusun rekomendasi pengelolaan wisata selancar yang adaptif, bertanggung jawab, dan berkelanjutan. Hasil kajian juga diharapkan mendukung penguatan ekonomi masyarakat Mentawai, pelestarian ekosistem laut, serta peningkatan daya saing pariwisata bahari Indonesia di tingkat global. Upaya tersebut sejalan dengan agenda konservasi laut nasional yang menargetkan perlindungan 30 persen wilayah laut pada 2045, yang dikenal sebagai target 30x45.

Bupati Kepulauan Mentawai, Dr. Rinto Wardana Samaloisa, menyatakan dukungannya terhadap inisiatif riset kolaboratif tersebut. Menurutnya, hasil penelitian dapat menjadi landasan ilmiah bagi pemerintah daerah dalam menyusun kebijakan dan regulasi terkait pemanfaatan kawasan laut untuk kegiatan olahraga selancar.

Ia menilai Mentawai memiliki keunggulan berupa karakter ombak yang beragam, mulai dari yang sesuai bagi peselancar pemula hingga ombak ekstrem yang menantang peselancar profesional. Keindahan bentang alam dan hutan yang mengelilingi kawasan pesisir juga menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan mancanegara.

Dukungan pemerintah daerah diharapkan dapat memperkuat keterhubungan antara hasil penelitian, penyusunan kebijakan, dan praktik pengelolaan pariwisata di lapangan. Dengan demikian, pengembangan wisata selancar di Mentawai tidak hanya berorientasi pada peningkatan jumlah kunjungan, tetapi juga pada perlindungan lingkungan, keselamatan wisatawan, dan kesejahteraan masyarakat lokal.

Inisiatif ini sejalan dengan semangat kampus berdampak, ketika perguruan tinggi berperan aktif menghadirkan solusi berbasis ilmu pengetahuan bagi kebutuhan masyarakat dan pembangunan daerah. Kolaborasi tersebut juga mendukung tiga tujuan Sustainable Development Goals (SDGs), yaitu SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi), SDG 14 (Ekosistem Lautan), dan SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan) melalui sinergi perguruan tinggi, lembaga riset, pemerintah, dan dunia usaha.