Lustrum ke-9 Universitas Bung Hatta: Hadirkan Orasi Ilmiah Sesditjendikti Tentang Transformasi Pendidikan Tinggi Berita Terbaru
Jumat, 08 Mei 2026
Ubay

Lustrum ke-9 Universitas Bung Hatta: Hadirkan Orasi Ilmiah Sesditjendikti Tentang Transformasi Pendidikan Tinggi

Lustrum ke-9 Universitas Bung Hatta: Hadirkan Orasi Ilmiah Sesditjendikti Tentang Transformasi Pendidikan Tinggi

Universitas Bung Hatta menyelenggarakan peringatan Lustrum ke-9 dengan menghadirkan Sekretaris Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Bapak Prof. Dr. Med. Setiawan, dr., AIFM untuk penyampaian orasi ilmiah mengenai Transformasi Pendidikan Tinggi Menuju Universitas Berdampak dan Berdaya Saing Global. Kegiatan ini bertempat di Bung Hatta Convention Hall, Kampus Proklamator I pada 08 Mei 2026.

Rektor Universitas Bung Hatta, Prof. Dr. Diana Kartika, menyampaikan Lustrum ke-9 Universitas Bung Hatta menjadi momentum yang sangat istimewa. Selain menandai perjalanan lima tahunan institusi, tahun ini Universitas Bung Hatta juga genap berusia 45 tahun sejak berdiri pada 20 April 1981.

"Perjalanan panjang ini telah mengantarkan Universitas Bung Hatta tumbuh dan berkembang menjadi perguruan tinggi yang unggul, siap berkompetisi, dan berdampak, " imbuhnya.

 Lustrum ke-9 Universitas Bung Hatta juga tidak hanya peringatan tiap lima tahun saja, akan tetapi menjadi refleksi perjalanan Universitas Bung dalam dunia pendidikan. Hal ini juga sejalan dengan visi Universitas Bung Hatta dan untuk capaian mimpi ini terdapat 5 tahapan milestone yang akan menjadi rambu-rambu menuju Entrepreneural University.

“Universitas Bung Hatta terus bertransformasi untuk menjadi kampus yang berdampak, tidak hanya dalam aspek akademik, tetapi juga dalam pengabdian dan kontribusi terhadap masyarakat.

Dalam orasi ilmiahnya, Prof. Dr. Med. Setiawan, dr., AIFM menyoroti berbagai tantangan pendidikan tinggi di Indonesia saat ini, mulai dari kompleksitas persoalan global hingga dinamika perubahan sosial dan teknologi yang begitu cepat.

Menurutnya, perguruan tinggi saat ini menghadapi tantangan besar akibat revolusi industri 4.0, Society 5.0, perubahan geopolitik, perkembangan kecerdasan buatan, hingga tuntutan dunia kerja yang semakin dinamis. Oleh karena itu, kampus harus mampu menyesuaikan diri melalui inovasi, riset, dan penguatan kualitas sumber daya manusia.

Ia juga memaparkan kondisi pendidikan tinggi Indonesia terkini yang membutuhkan transformasi menyeluruh agar mampu bersaing di tingkat global. Perguruan tinggi tidak lagi cukup hanya menghasilkan lulusan, tetapi harus mampu menciptakan dampak nyata melalui riset, inovasi, dan solusi terhadap persoalan masyarakat.

Dalam pandangannya, Universitas Bung Hatta memiliki kekuatan besar karena menyandang nama tokoh nasional Mohammad Hatta yang sarat dengan nilai integritas, kejujuran, dan intelektualitas.

“Universitas Bung Hatta memiliki kekuatan dari nama besar yang melekat pada institusi ini. Nilai-nilai Bung Hatta harus terus hidup dan dibawa oleh mahasiswa maupun alumni dalam kehidupan sehari-hari. Kampus harus mampu mengimplementasikan nilai-nilai baik itu melalui ilmu pengetahuan dan kontribusi nyata kepada masyarakat,” ujarnya.

Ia menambahkan langkah-langkah kecil yang dilakukan perguruan tinggi untuk menjawab kebutuhan masyarakat dapat menjadi policy brief atau masukan strategis bagi pemerintah dalam menyusun kebijakan pembangunan daerah dan nasional.

Dalam kesempatan tersebut, ia juga menekankan kemajuan sumber daya manusia sangat ditentukan oleh kualitas dosen. Dosen menjadi motor utama transformasi pendidikan tinggi dalam membangun ekosistem pembelajaran yang inovatif dan adaptif.

Selain membahas tantangan pendidikan tinggi, orasi ilmiah tersebut juga mengangkat amanat Presiden Republik Indonesia terkait arah pendidikan tinggi, sains, dan teknologi ke depan. Perguruan tinggi didorong untuk mengutamakan inovasi dan penelitian guna mengejar ketertinggalan Indonesia dari negara-negara maju.

Menurutnya, penguatan riset dan hilirisasi inovasi menjadi bagian penting dalam meningkatkan daya saing bangsa. Kampus harus mampu menjadi pusat pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang memberikan dampak langsung bagi pembangunan nasional.

Pada sesi berikutnya, ia memaparkan pentingnya Indikator Kinerja Utama (IKU) perguruan tinggi sebagai fondasi menuju perguruan tinggi unggul dan berdaya saing global. Paradigma transformasi pendidikan tinggi, sains, dan teknologi saat ini harus diarahkan pada konsep “Diktisaintek Berdampak” yang selaras dengan program prioritas Presiden.

Ia juga mengingatkan mahasiswa agar siap menghadapi tantangan peradaban baru di era digital. Menurutnya, mahasiswa tidak cukup hanya mengetahui suatu ilmu, tetapi harus memiliki kemampuan learning how to learn atau belajar cara belajar.

“Tantangan mahasiswa hari ini adalah bagaimana menguasai teknologi namun tetap humanis. Literasi baru di era digital menjadi sangat penting, mulai dari literasi data, teknologi, hingga literasi manusia,” jelasnya.

Ia menambahkan dunia kerja saat ini membutuhkan keterampilan inti seperti kemampuan berpikir kritis, kolaborasi, komunikasi, kreativitas, adaptasi, dan kemampuan memecahkan masalah. Oleh sebab itu, strategi “belajar cara belajar” menjadi kompetensi utama yang harus dimiliki generasi muda.

Kegiatan Lustrum ke-9 Universitas Bung Hatta dihadiri oleh Staf Ahli Gubernur, Wakil Walikota Padang, Pimpian Yayasan, pimpinan Universitas, dosen, tenaga kependidikan, mahasiswa, alumni, serta berbagai mitra institusi.