Fakultas
FPIK Universitas Bung Hatta Hadirkan International Lecturer Bahas Good Aquaculture Practices
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Universitas Bung Hatta menyelenggarakan International Lecturer: Implementation of Good Aquaculture Practices through Water Quality Management bersama Prof. Dr. Muta Harah Zakaria dari Universiti Putra Malaysia. Kegiatan ini bertempat di Aula Balairung Caraka Gedung B Kampus Proklamator I Universitas Bung Hatta pada 23 September 2026.
Prof. Dr. Muta Harah Zakaria membahas pentingnya penerapan Good Aquaculture Practices (GAP) dalam kegiatan budidaya perikanan, khususnya melalui pengelolaan kualitas air. Kualitas air menjadi salah satu faktor penting dalam keberhasilan kegiatan akuakultur karena berhubungan langsung dengan kondisi organisme yang dibudidayakan, pertumbuhan, kesehatan, produktivitas, dan keberlanjutan sistem budidaya.
"Pengelolaan kualitas air dalam praktik akuakultur tidak hanya berkaitan dengan menjaga kondisi air tetap sesuai bagi organisme budidaya, tetapi juga membutuhkan pemantauan secara berkelanjutan terhadap berbagai parameter kualitas air. Pemahaman terhadap perubahan kondisi perairan menjadi bagian penting dalam menentukan tindakan pengelolaan yang tepat selama proses budidaya," sebutnya.
Melalui materi yang disampaikan, mahasiswa mendapatkan pemahaman bahwa penerapan praktik budidaya yang baik perlu dilakukan secara menyeluruh. Pengelolaan kualitas air perlu ditempatkan sebagai bagian dari sistem budidaya yang memperhatikan kesehatan ikan atau organisme yang dibudidayakan, efisiensi penggunaan sumber daya, keamanan hasil produksi, serta dampak kegiatan budidaya terhadap lingkungan.
Dekan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Bung Hatta, Prof. Dr. Ir. Yusra, M.S., menyampaikan kuliah umum ini menjadi bagian dari upaya FPIK Universitas Bung Hatta memperkuat pengalaman belajar mahasiswa melalui perspektif akademik internasional sekaligus memperluas wawasan mengenai praktik akuakultur yang berkelanjutan.
“"Kehadiran akademisi dari Universiti Putra Malaysia bukan sekadar menjadi bagian dari kegiatan kuliah umum, tetapi juga menjadi jembatan untuk memberikan pengalaman dan pengetahuan perikanan dan akuakultur dari Malaysia dengan potensi yang dimiliki oleh Indonesia," imbuhnya.
Ia menambahkan dalam konteks pengembangan akuakultur, pengelolaan kualitas air memiliki peran penting karena lingkungan perairan merupakan media utama bagi organisme budidaya. Kondisi air yang tidak terkelola dapat memengaruhi kesehatan dan pertumbuhan organisme, sementara pengelolaan yang baik dapat mendukung terciptanya lingkungan budidaya yang lebih stabil dan produktif.
“Ketika kita berbicara tentang Good Aquaculture Practices dan Water Quality Management, kita sedang berbicara tentang bagaimana menghasilkan pangan secara bertanggung jawab sekaligus menjaga keberlanjutan lingkungan. Akuakultur bukan hanya berbicara tentang bagaimana menghasilkan ikan, tetapi juga tentang pangan, ekonomi, lingkungan, air, inovasi, pekerjaan, dan masa depan masyarakat,” jelasnya.
Ditambahkannya, melalui International Lecturer ini, mahasiswa FPIK Universitas Bung Hatta diharapkan semakin memahami bahwa keberhasilan akuakultur tidak hanya ditentukan oleh kemampuan meningkatkan produksi, tetapi juga oleh kemampuan mengelola lingkungan budidaya secara tepat dan berkelanjutan.
"Kegiatan ini sekaligus memperkuat upaya FPIK Universitas Bung Hatta dalam menghadirkan pembelajaran yang menghubungkan pengetahuan akademik dengan kebutuhan pengembangan sektor perikanan dan akuakultur di masyarakat," ungkapnya.
Pelaksanaan HK Mengajar Inspiring Leaders di Universitas Bung Hatta ini mendukung SDG 4 (Pendidikan Berkualitas), SDG 14 (Ekosistem perairan), dan SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan) melalui penguatan akses terhadap pembelajaran dan pengembangan kompetensi mahasiswa terhadap penerapan kegiatan akuakultur yang memperhatikan keberlanjutan lingkungan perairan.