Lewati ke konten utama
Dosen Universitas Bung Hatta Kembangkan Koto Mudiek Resilience System (KMRS) untuk Perkuat Ketahanan Bencana di Pesisir Selatan Fakultas
Jumat, 30 Oktober 2026
Ubay

Bagikan:

Dosen Universitas Bung Hatta Kembangkan Koto Mudiek Resilience System (KMRS) untuk Perkuat Ketahanan Bencana di Pesisir Selatan

Pengalaman menghadapi bencana banjir bandang atau galodo mendorong masyarakat Nagari Koto Mudiek, Kecamatan Batang Kapas, Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat, untuk memperkuat kesiapsiagaan menghadapi ancaman bencana.

Menjawab kebutuhan tersebut, Universitas Bung Hatta melalui Program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) dengan pendanaan internal tahun 2026 mengembangkan Koto Mudiek Resilience System (KMRS), sebuah inovasi berbasis komunitas yang dirancang untuk membangun ketahanan masyarakat terhadap bencana secara terpadu dan berkelanjutan.

Pengembangan KMRS diketuai oleh dosen Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan (FTSP) Universitas Bung Hatta Dr. Harne Julianti Tou, S.T., M.T., dengan anggota Nori Yusri, S.T., M.Si., Prof. Dr. Ir. Junaidi, M.Si., dan Dr. Harfiandri Damanhuri, M.Sc., serta melibatkan mahasiswa Universitas Bung Hatta. Pelaksanaan kegiatan turut didukung Pemerintah Nagari Koto Mudiek, Kelompok Siaga Bencana (KSB), dan masyarakat setempat.

Ketua Tim Pengabdian, Dr. Harne Julianti Tou, S.T., M.T., mengatakan program ini dilatarbelakangi oleh bencana banjir bandang yang melanda kawasan tersebut pada akhir November hingga Desember 2025. Dampaknya cukup besar, dengan hampir 90 persen kawasan permukiman terdampak. Selain merusak lingkungan di sepanjang Daerah Aliran Sungai (DAS) Batang Kapeh, bencana tersebut juga mengganggu aktivitas sosial dan ekonomi masyarakat.

"Kondisi ini memperlihatkan pentingnya membangun sistem kesiapsiagaan yang tidak hanya mengandalkan respons saat bencana terjadi, tetapi juga melibatkan masyarakat dalam upaya pengurangan risiko sejak dini," sebutnya.

Menurutnya, KMRS dikembangkan untuk menjawab kebutuhan masyarakat terhadap sistem kesiapsiagaan bencana yang lebih terorganisasi, mulai dari tingkat keluarga hingga kelembagaan nagari.

“Ketahanan masyarakat terhadap bencana tidak cukup hanya dibangun melalui pengetahuan tentang apa yang harus dilakukan ketika bencana terjadi. Masyarakat juga perlu memiliki sistem, keterampilan, kelembagaan, serta kesadaran untuk menjaga lingkungan. Melalui KMRS, kami ingin mendorong masyarakat agar lebih siap, tanggap, dan mampu mengelola risiko bencana secara mandiri dengan memanfaatkan potensi lokal,” jelasnya.

Untuk mewujudkan tujuan tersebut, KMRS mengintegrasikan tiga aspek utama, yaitu sosial, kelembagaan, dan lingkungan. Ketiganya saling berkaitan dalam membangun ketahanan masyarakat.

Pada aspek sosial, masyarakat diberikan edukasi dan pelatihan kesiapsiagaan bencana berbasis keluarga dan komunitas. Pada aspek kelembagaan, dilakukan penguatan kapasitas Kelompok Siaga Bencana serta penyusunan sistem dan standar operasional prosedur (SOP) penanggulangan bencana di tingkat nagari. Sementara itu, aspek lingkungan diarahkan pada peningkatan pemahaman masyarakat mengenai pengelolaan kawasan DAS Batang Kapeh.

"Salah satu bagian penting dari program ini adalah penyusunan sistem kesiapsiagaan yang dapat diterapkan langsung oleh masyarakat. Kegiatan meliputi identifikasi kebutuhan warga, pemetaan jalur evakuasi, penentuan titik kumpul, serta edukasi mengenai langkah-langkah penyelamatan saat terjadi bencana. Penguatan kapasitas KSB juga menjadi perhatian agar kelompok tersebut mampu menjalankan peran koordinasi dan membantu masyarakat dalam situasi darurat," jelasnya.

Tidak hanya memperkuat sistem kesiapsiagaan, tim pengabdian Universitas Bung Hatta juga mengembangkan inovasi KMRS Kit, yaitu perlengkapan kesiapsiagaan bencana berbasis komunitas yang dirancang dengan memanfaatkan potensi dan sumber daya lokal. Kehadiran KMRS Kit diharapkan membantu masyarakat mempersiapkan kebutuhan dasar dalam menghadapi kondisi darurat sekaligus membangun budaya siaga bencana mulai dari lingkungan keluarga.

Aspek pemulihan lingkungan juga menjadi perhatian dalam pengembangan KMRS. Melalui edukasi pengelolaan DAS Batang Kapeh dan demonstrasi rehabilitasi lingkungan, masyarakat diajak memahami bahwa kondisi kawasan hulu dan hilir, sedimentasi, serta kerusakan lingkungan memiliki keterkaitan dengan risiko banjir. Pemahaman tersebut penting untuk menumbuhkan kepedulian bersama dalam menjaga kawasan sungai dan lingkungan sebagai bagian dari upaya mengurangi potensi bencana berulang.

Sebanyak 42 masyarakat yang berada di kawasan DAS Batang Kapeh, Nagari Koto Mudiek, terlibat dalam kegiatan pengabdian ini. Partisipasi warga menjadi salah satu kekuatan utama program karena keberhasilan pengurangan risiko bencana sangat bergantung pada keterlibatan masyarakat sebagai pihak yang paling dekat dengan lingkungan dan memahami kondisi wilayahnya. Melalui kegiatan ini, masyarakat didorong untuk tidak hanya menjadi penerima manfaat, tetapi juga menjadi pelaku utama dalam membangun ketahanan nagari.

Keberlanjutan KMRS menjadi bagian penting dari pengembangan program. Universitas Bung Hatta mendorong agar sistem yang telah dibangun dapat diintegrasikan ke dalam perencanaan pembangunan nagari, termasuk penguatan kelembagaan KSB, pemeliharaan jalur evakuasi, pelaksanaan edukasi kebencanaan secara berkala, serta pengembangan KMRS Kit sebagai produk kesiapsiagaan berbasis komunitas. Dengan demikian, manfaat program diharapkan dapat terus dirasakan masyarakat meskipun kegiatan pengabdian telah selesai dilaksanakan.

Pengembangan KMRS juga sejalan dengan pencapaian SDG 11 (Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan), SDG 13 (Penanganan Perubahan Iklim), dan SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan) melalui penguatan ketahanan masyarakat terhadap bencana.